Minuman Kawula Muda Perkotaan
Sejak Pra sejarah keanekaragaman hayati bangsa Indonesia telah melegenda dengan tertimbunya tanaman khasiat
Kini...trend gaul anak muda cosmopolitan mulai beralih ke minuman sehat alami yang tidak mengandung zat kimiawi...Back to Nature...
Salah satunya pelengkap minuman kawula muda cosmopolit dari gula jawa herbal yang tanpa menggunakan bahan pengawet.
Dengan kemasan sachet yang praktis dan bisa untuk beramai-ramai sambil meluangkan waktu...atau kesibukan lainnya
Gula Jawa Herbal diracik dari ramuan tradisional yang dipadu dengan gula jawa sehingga terasa segar dan berkhasiat.
Berikut aneka rasa dan manfaat Gula Jawa Herbal:
1. Kopi Jahe
Perpaduan antara kopi dan jahe memberikan sensasi rasa yang unik.
2. Jahe
Berkhasiat untuk mencegah masuk angin, mengurangi mual, perut kembung, meringankan batuk dan menghangatkan badan.
3. Beras Kencur
Ramuan dapat mengurangi pegel lnu, batuk, encok, desentri dan sakit perut.
4. Kunir Asem
Kunir asem berkhasiat merawat dan menghaluskna kulit, membersihkan dan melancarkan sirkulasi darah, mengurangi nyeri haid.
5. Kunir Putih
Dipercaya mampu mencegah dan membantu mengurangi resiko penyakit kanker, tumor dan gejala dini stroke, serta memperkuat daya tahan tubuh.
6. Secang
Dapat mencegah nyeri karena gangguan sirkulasi darah.
7. Temulawak
Adalah rempah asli Indonesia yang dipercaya mampu melancarkan peredaran darah, mencegah panas dalam, meningkatkan nafsu makan.
8. Sari Kedelai
Sari kedelai mengandung banyak kalsium.
9. Susu Jahe
Jahe yang kaya manfaat dipadukan dengan susu yang sarat nutrisi memberikan rasa yang istemewa.
Order > 100 harga @ Rp 3500/sachet (blm ongkos kirim)
< 100 harga @ Rp 4000/sachet (blm ongkos kirim)
Pengiriman 3-4 hari setelah pembayaran diterima
Hub. Ibu Shinta 081399613733
Mozaik Sejarah
...menelaah, mengambil hikmah yang tersirat maupun tersurat dibalik peristiwa sejarah..
Kamis, 02 Desember 2010
Kamis, 10 Juni 2010
Jalan Duri Hubungan Indonesia Cina
Merunut hubungan kerjasama indonesia dan tiongkok atau cina sejak berabad-abad telah terjalin dengan mengalami berbagai pasang surut. Di masa kuno, hubungan dagang telah terjalin antara kerajaan nusantara dengan dinasti tiongkok kemudian menjalar ke bidang-bidang lainnya.
Kendati masih menjadi perdebatan para ahli sejarah, ada sebagian kelompok menganggap para Wali Sanga yang berperan besar dalam syiar Islam di Indonesia khususnya di Pulau Jawa merupakan etnis tionghoa, dan bukan berasal dari handaramaut dan pedagang gujarat.
Kehadiran misi kebudayaan Laksamana Ceng Ho ke nusantara tahun 1404 – 1409 melengkapi bukti keharmonisan yang terjalin saat itu. Memasuki era kemerdekaan 17 agustus 1945 tidak sedikit tokoh tionghoa yang ikut berjuang demi tegaknya kemerdekaan indonesia salah satu diantaranya bernama John Lie. Ia merupakan salah satu tokoh peranakan tionghoa dengan kapal The Outlaw-nya berhasil menembus blockade angkatan laut belanda untuk menukar barang-barang hasil bumi seperti tembakau, lada, cengkeh dengan perlengkapan senjata.
1 oktober 1949 Republik Rakyat Cina didirikan tokoh kharismatik Mao Zedong dan Indonesia negara pertama yang memberi pengakuannya. Hubungan baik ini terus terjalin dan makin dipertegas dengan pembukaan hubungan diplomatik antara indonesia dan cina meliputi kerjasama ekonomi dan kebudayaan pada tahun 1950.
Semangat kebersamaan dalam menentang bentuk kolonialisme, makin menyatukan dua negara itu.
Dan ketika di Indonesia mempunyai hajatan besar yakni berlangsungnya konferensi asia afrika tahun 1955, Republik Rakyat Cina mengirim utusan khususnya menteri luar negeri Chou En Lai
Sayangnya, hubungan mesra ini berubah 180 derajat ketika terjadinya kudeta gerakan 30 september 1965, yang menewaskan beberapa jendral angkatan darat.
Stigma negatif negara RRC yang selalu dilekatkan dengan kudeta berdarah tahun 1965 oleh kepemimpinan Orde Baru Soeharto, menjadi kendala terciptanya hubungan seperti dulu lagi. Putusnya hubungan diplomatik pelarangan buku berbahasa cina dan penutupan sekolah menjadi awan gelap yang berlangsung selama puluhan tahun.
Satu sisi, masa Orde Baru, ruang lingkup orang-orang tionghoa tidak merdeka, namun disisi lain, pemerintahan Orde Baru malah menggadang-gadang sebagian pengusaha keturunan Tionghoa peranakan untuk menjadi rekan bisnis yang tergabung dalam kelompok Jimbaran.
Memasuki era 1990-an pemulihan kerjasama hubungan RRC dengan Indonesia mulai dirintis kembali dengan prakarsa para pelaku bisnis. Hbungan saling pengertian terus diperkuat diberbagai bidang khususnya filateli dengan ditandatanganinya joint issue stamp indonesia cina yang meluncurkan seri perdana perangko berlogo tari barong dan liong.
Puncak normalisasi hubungan dengan cina bergaung kembali ketika abdurrahman wahid menjadi presiden republik Indonesia. Presiden Kyai yang humanis itu merupakan figure yang kokoh dan kuat dalam menggugah ingatan kolektif bangsa soal masyarakat yang multi cultural dan multi etnik.
Menghancurkan tali kekang yang selama ini membelenggu. Atraksi kesenian barongsai sebagai jati diri dan identitas masyarakat tionghoa, juga kebebasan menjalankan kepercayaan leluhur bukan hal tabu lagi untuk dipertontonkan di khalayak umum.
Indonesiadan Cina saling berinteraksi dalam kancah hubungan internasional melalui berbagai kerjasama regional dan internasional. sesama anggota APEC, selain itu Cina juga menjalin kerjasama erat dengan ASEAN dalam wadah ASEAN plus Three. Kerjasama ini makin mengefektifkan hubungan perdagangan dua negara yang menunjukan volume yang terus membesar dari waktu ke waktu.
Perkembangan hubungan ekonomi dunia kini tak lagi didominasi antar pemerintah namun pihak swasta mulai memegang peranan dengan membentuk masyarakat Asia Timur atau Eeast Asia Community.
Forum East Asia Community (EAC) ini menjadi sebuah forum besar meliputi setengah dari jumlah penduduk di seluruh dunia. Dan ini menjadi lahan yang kini dipakai sebagai wadah kerjasama perdagangan Indonesia Cina serta negara kawasan asia lainnya untuk memperbesar perdagangannya.
Dengan demikian tingkat kompetensi, profesionalisme pun semakin terbuka dan menjadi tolok ukur keberhasilan. Alhasil, siapa yang tidak siap maka akan selalu tertinggal dan menjadi penonton semata. Semoga Indonesia tidak demikian…
Kendati masih menjadi perdebatan para ahli sejarah, ada sebagian kelompok menganggap para Wali Sanga yang berperan besar dalam syiar Islam di Indonesia khususnya di Pulau Jawa merupakan etnis tionghoa, dan bukan berasal dari handaramaut dan pedagang gujarat.
Kehadiran misi kebudayaan Laksamana Ceng Ho ke nusantara tahun 1404 – 1409 melengkapi bukti keharmonisan yang terjalin saat itu. Memasuki era kemerdekaan 17 agustus 1945 tidak sedikit tokoh tionghoa yang ikut berjuang demi tegaknya kemerdekaan indonesia salah satu diantaranya bernama John Lie. Ia merupakan salah satu tokoh peranakan tionghoa dengan kapal The Outlaw-nya berhasil menembus blockade angkatan laut belanda untuk menukar barang-barang hasil bumi seperti tembakau, lada, cengkeh dengan perlengkapan senjata.
1 oktober 1949 Republik Rakyat Cina didirikan tokoh kharismatik Mao Zedong dan Indonesia negara pertama yang memberi pengakuannya. Hubungan baik ini terus terjalin dan makin dipertegas dengan pembukaan hubungan diplomatik antara indonesia dan cina meliputi kerjasama ekonomi dan kebudayaan pada tahun 1950.
Semangat kebersamaan dalam menentang bentuk kolonialisme, makin menyatukan dua negara itu.
Dan ketika di Indonesia mempunyai hajatan besar yakni berlangsungnya konferensi asia afrika tahun 1955, Republik Rakyat Cina mengirim utusan khususnya menteri luar negeri Chou En Lai
Sayangnya, hubungan mesra ini berubah 180 derajat ketika terjadinya kudeta gerakan 30 september 1965, yang menewaskan beberapa jendral angkatan darat.
Stigma negatif negara RRC yang selalu dilekatkan dengan kudeta berdarah tahun 1965 oleh kepemimpinan Orde Baru Soeharto, menjadi kendala terciptanya hubungan seperti dulu lagi. Putusnya hubungan diplomatik pelarangan buku berbahasa cina dan penutupan sekolah menjadi awan gelap yang berlangsung selama puluhan tahun.
Satu sisi, masa Orde Baru, ruang lingkup orang-orang tionghoa tidak merdeka, namun disisi lain, pemerintahan Orde Baru malah menggadang-gadang sebagian pengusaha keturunan Tionghoa peranakan untuk menjadi rekan bisnis yang tergabung dalam kelompok Jimbaran.
Memasuki era 1990-an pemulihan kerjasama hubungan RRC dengan Indonesia mulai dirintis kembali dengan prakarsa para pelaku bisnis. Hbungan saling pengertian terus diperkuat diberbagai bidang khususnya filateli dengan ditandatanganinya joint issue stamp indonesia cina yang meluncurkan seri perdana perangko berlogo tari barong dan liong.
Puncak normalisasi hubungan dengan cina bergaung kembali ketika abdurrahman wahid menjadi presiden republik Indonesia. Presiden Kyai yang humanis itu merupakan figure yang kokoh dan kuat dalam menggugah ingatan kolektif bangsa soal masyarakat yang multi cultural dan multi etnik.
Menghancurkan tali kekang yang selama ini membelenggu. Atraksi kesenian barongsai sebagai jati diri dan identitas masyarakat tionghoa, juga kebebasan menjalankan kepercayaan leluhur bukan hal tabu lagi untuk dipertontonkan di khalayak umum.
Indonesiadan Cina saling berinteraksi dalam kancah hubungan internasional melalui berbagai kerjasama regional dan internasional. sesama anggota APEC, selain itu Cina juga menjalin kerjasama erat dengan ASEAN dalam wadah ASEAN plus Three. Kerjasama ini makin mengefektifkan hubungan perdagangan dua negara yang menunjukan volume yang terus membesar dari waktu ke waktu.
Perkembangan hubungan ekonomi dunia kini tak lagi didominasi antar pemerintah namun pihak swasta mulai memegang peranan dengan membentuk masyarakat Asia Timur atau Eeast Asia Community.
Forum East Asia Community (EAC) ini menjadi sebuah forum besar meliputi setengah dari jumlah penduduk di seluruh dunia. Dan ini menjadi lahan yang kini dipakai sebagai wadah kerjasama perdagangan Indonesia Cina serta negara kawasan asia lainnya untuk memperbesar perdagangannya.
Dengan demikian tingkat kompetensi, profesionalisme pun semakin terbuka dan menjadi tolok ukur keberhasilan. Alhasil, siapa yang tidak siap maka akan selalu tertinggal dan menjadi penonton semata. Semoga Indonesia tidak demikian…
Label:
APEC,
barongsai,
EAC,
Mao Zedong
| Reaksi: |
Langganan:
Entri (Atom)


